ZAIRAHAES….Just A Family Model
• Front Page
• Filosofi Pendidikan Keluarga
• REFERENSI
← Bermain Bersama Membentuk Kepribadian Matang Pada Masa Balita →
Internet Masuk Sekolah : Positif atau Negatif ?
March 18, 2009 • 9 Comments
Salah satu perusahaan telekomunikasi raksasa di Indonesia kembali meluncurkan program untuk pendidikan. Mereka memberi nama program tersebut “Indonesia Belajar”. Seragam dengan Depdiknas yang meluncurkan Jardiknas tahun lalu, kemudian beberapa perusahaan telekomunikasi lain yang sudah meluncurkan hal yang sama.
Program-program berbau teknologi ini berbentuk pengadaan komputer, jaringan telekomunikasi dan software. Sekolah-sekolah diberi fasilitas untuk menggunakan multimedia karena software dan hardware telah disediakan. Dampaknya, siapapun, baik itu guru, kepala sekolah, murid, staf TU, bahkan penjaga sekolah akan memiliki akses mengendus informasi dunia.
Positifkah atau negatifkah efek yang akan dilahirkan dari konsumsi teknologi ini.
Pertama yang ingin penulis cermati adalah, Information Technology Has No Filter. Informasi apapun dan dari manapun dapat diakses tanpa melihat batasan usia. Bisa saja sebuah situs mensyaratkan batasan usia tertentu, tetapi identitas dapat dengan mudah dipalsukan. Anak-anak usia sekolah sangat mudah masuk ke dalam situs-situs dewasa tanpa hambatan. Efek negatifnya, peluang pornografi, gaya hidup konsumtif, rokok, juvenille delinquncy dapat masuk melalui internalisasi informasi dengan sangat mudah. Bahkan hanya dengan satu kali, Klik !
Kedua, Information Need No Supervision. Apakah guru dan orang tua bisa mengawasi informasi apa saja yang diakses oleh anak-anaknya selama 24 jam ? Yang lebih serius lagi adalalah apakah orang tua dan guru peduli mengenai informasi apa saja yang diakses oleh anak-anaknya ? Biasanya alasan tidak punya waktu karena sibuk dengan pekerjaan akan menjadi alasan utama.
Ketiga, anak belajar melalui model. Model apa saja bisa didapatkan melalui kotak ajaib yang sudah tersambung dengan kabel internet. Voila ! Anak bisa mencontoh apa saja yang dia inginkan.
Tanpa menafikan sisi positif dari kecepatan teknologi informasi, sebaiknya program-program yang bersifat speed access to technology dipertimbangkan dengan matang. Masalahnya, negara ini masih berkutat pada masalah-masalah guru yang tidak berkualitas, orang tua yang tidak peduli dan sekolah yang korup. Belum ada jaminan sistem atau setidaknya proses pengawasan penggunaan teknologi informasi di kalangan pelajar.
Pembaca bisa membayangkan apa yang terjadi ketika teknologi masuk ke dalam sekolah dalam kondisi guru-guru tidak siap alias gaptek tidak bisa menggunakan teknologi yang disediakan. Butuh waktu untuk mempersiapkan teknis dan mental guru-guru untuk mentransfer ilmu dan nilai kepada murid-muridnya. Sementara, anak-anak di masa sekarang sudah demikian cepat dapat belajar dan beradaptasi dengan jaringan internet. Mampukah guru menjadi pengarah dan pengawas tanpa bila mereka tidak memiliki kompetensi yang cukup?
Artinya, dropping pengadaan peralatan teknologi informasi harus dibarengi pula dengan pembekalan-pembekalan terhadap user. Bukan hanya memberikan barang secara fisik, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai yang hendak diusung ke dalam program.
Menjadi user teknologi bukan hanya persoalan teknis semata, melainkan persoalan menggunakan olahan ilmu pengetahuan untuk kebaikan kehidupan umat manusia.
Saya tidak membenci teknologi informasi, karena sebagai pengguna saya merasa mendapat banyak manfaat dalam berbagai aspek kehidupan. Yang saya maksudkan adalah kesiapan user dan kesadaran pemanfaatan hal-hal positif, terutama dalam bidang pendidikan.
Seperti ketika seorang anak sedang belajar berjalan, pastinya ia tidak tiba-tiba dipakaikan Roller Scate, tapi mulai dulu belajar menggunakan sendal dan sepatu dibimbing oleh orang tuanya.
Ketika, internet masuk sekolah, guru dan perangkat pendidik terlebih dulu disiapkan, mengerti seluk beluk dan mahir menggunakannya sebelum diberikan kepada murid-murid. Karena guru adalah pembimbing para pelajar.
Siapa yang jadi pembimbing guru ? Menurut saya, seluruh provider dan penyelenggara bantuan peralatan teknologi informasi bertanggung jawab untuk membina dan melatih guru-guru dalam penggunaan teknologi, agar guru-guru mampu memberdayakan teknologi, bukan sebaliknya diperdaya oleh teknologi.
Salam,
Asrillanoor.
Categories: Keluarga, Teknologi Dan Budaya
Tagged: anak, guru, internet, pendidikan, sekolah
9 responses so far ↓
• Dampak Dari Internet Masuk Sekolah | XXXTra Channel // March 19, 2009 at 7:14 am
[...] Visit Dampak Dari Internet Masuk Sekolah [...]
•
singgasanaku // March 19, 2009 at 11:02 am
Betul, harus dibarengi dengan mempersiapkan penggunanya juga agar tidak salah dalam memanfaatkan fasilitas ini. Untuk anak didik selain keterampilan dalam menggunakannya, juga perlu ditanamkan sejak awal bahwa teknologi tersebut dapat memberikan kemudahan untuk menggapai kesuksesan kita. Dari internet kita dapat mencari jawaban atas hal-hal yang kita belum tahu. Dari internet kita bisa mengenal orang-orang sukses. Dari internet, bahkan kita bisa mendapatkan penghasilan.
Apa yang kita tanamkan tersebut harus disertai praktek sehingga anak dapat membuktikan dan merasakan manfaatnya. Setelah anak-anak merasakan manfaat yang positif, diharapkan mereka akan mengembangkan dasar2 yang kita berikan untuk hal yang positif juga.
Saran saya, untuk tahap awal jangan dulu dikenalkan kepada hal-hal yang sifatnya hiburan, melainkan kenalkan mereka kepada ilmu pengetahuan, sastra, bisnis, dll yang konstruktif.
•
asrillanoor // March 19, 2009 at 2:43 pm
To Singgasanaku…..
Sepertinya pandangan kita sama bahwa yang terpenting adalah penanaman manfaat positif lebih dahulu. Kita punya PR untuk memproteksi lingkungan kita sendiri dari bombardir informasi yang tak tersaring.
Syukur-syukur bisa menggugah para eksekutor projek-projek raksasa agar mau mempertimbangkan aspek sosiokultur dan pendidikan ketika mereka mengintervensi masyarakat dengan program-program mereka.
•
ari // March 20, 2009 at 12:07 am
sesuatu di dunia ini pasti ada baik buruknya..tergantung dari diri kita masing2..tanamkanlah sisi psitifnya terlebih dahulu..maka itu akan menimbulkan pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh apapun..
•
Herry // March 21, 2009 at 6:07 am
Permisi…
Artikel ini amat menarik buat saya yg sedang berusaha mengenalkan dunia internet dan multimedia ke sekolah anak saya.
Saya setuju bahwa kita juga mesti mempertimbangkan masalah sosio kultur dan efek negatif dari internet terhadap anak.
Namun saya juga tidak ingin kedua hal tsb mengurangi semangat “Internet goes To School” yang sedang tumbuh.
Internet sebagaimana juga hal lainnya bisa dilihat bagai pedang dengan dua sisi. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya untuk kebaikan atau keburukan. Dua hal itu saya pikir sudah menjadi kodrat yang tak bisa dihindari.
Artikel ini amat bermanfaat untuk mengingatkan kita semua agar selalu waspada terhadap efek negatif dari internet namun tanpa berniat untuk memalingkan muka darinya.
Terakhir, saya minta izin untuk memasang artikel ini di blog saya, herryanto.com. Tentu dengan mencantumkan sumber dengan jelas.
Terima kasih…maju terus pendidikan Indonesia…
Cheers…
•
asrillanoor // March 22, 2009 at 1:04 pm
To Herryanto,
Terima kasih telah memasang artikel ini di blog bapak. Mudah-mudahan bermanfaat.
Keprihatinan saya mengenai internet masuk sekolah bukan terletak pada teknologi yang hendak ditawarkan, melainkan kesiapan para tenaga kependidikan menghadapi teknologi.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa industri pendidikan di negeri ini umumnya berkutat pada hal-hal yang sifatnya artifisial, seringkali melupakan hal-hal yang sifatnya substantif, sehingga proyek pendidikan hanya dilihat dari dimensi teknis semata.
Betul, bahwa sarana dan prasarana adalah dimensi penting, namun jauh lebih penting memperkuat sumber daya manusianya terlebih dahulu agar mereka dapat memberdayakan teknologi, bukan sebaliknya diperdaya oleh teknologi.
Salam
Asrillanoor
•
rET // March 23, 2009 at 11:57 am
hem.. begitu ya.. memang cukup sulit.. dan kalau ditanya positif atau negatif, sebenarnya setiap persoalanpun juga mempunyai sisi negatif ataupun positif kan? apalagi dalam kasus ini, kita ketahui bahwa SDM di negara kita mempunyai kualitas yang masih kurang khususnya dalam bidang teknologi… Tetapi bukan tidak mungkin juga kan .. kita melakukan tersebut secara bersamaan… ataupun menerapkan standar moral sedini mungkin.. Karena memang hal ini menyangkut standar moral yang diterapkan pada diri… Tapi mungkin juga ini bukan hal yang mudah.. Karena munculnya standar moral tidak semata-mata muncul dari diri sendiri tetapi dalam hal ini lingkungan memberikan dampak yang sangat besar akan terbentuknya hal ini…
Tetapi kembali lagi jika kita melihat dari sisi lain, tentunya tidak semua yang ada di internet merugikan, khususnya bagi anak-anak sekolahan, saya rasa jika kita memberikan pendampingan yang benar, semua itu tidak akan sia-sia dan menjadi sesuatu yang buruk tetapi malah justru memberikan manfaat yang lebih. Karena itu sebagai orang yang lebih tua.. harusnya mampu memberikan pengawasan dan pendampingan yang tepat terhadap yang lebih muda, dan tak lulpa juga memberikan teladan yang benar, karena sebagian besar perilaku anak terbentuk dari perilaku orang dewasa…
ya.. jadi saya hanya bisa berdoa dan berharap agar internet goes to school tidak sia-sia ataupun memberikan dampak yang buruk, tetapi dapat terwujud sesuai dengan tujuan awal dari pemasangan internet ke sekolah ini, yaitu agar “indonesia belajar”
jadi mari kita berdoa saja dan bertindak…. yipz..
•
asrillanoor // March 24, 2009 at 12:08 pm
Dear rET,
Benar sekali, orang tua memainkan fungsi dan peran yang sangat penting untuk persoalan akses informasi ini. Jadi, kita membutuhkan lebih banyak lagi orang tua yang paham dan peduli soal pendidikan anaknya.
Salam,
Asrillanoor
•
@ahmad // July 3, 2009 at 8:57 am
internet masuk sekolah positip jika informasi yg di terima siswa adalah informasi yg bertanggung jawab, tidak bisa di pungkiri bahwa dunia internet yg liar juga “menyediakan” informasi2 liar dan tidak bertanggung jawab. dalam hal ini IT admin dari internet sekolah harus di standarisasi situs2 yg “forbiden” atau “allowed”. bukan berarti kita membatasi kebebasan anak didik kita tapi pada saatnya nanti mereka ketika sudah bisa bertanggung jawab bebas untuk melakukan yg mereka mau
Leave a Comment
Name
Mail
Website
• ALMANAK
March 2009
M T W T F S S
« Feb
Apr »
1
2 3 4 5 6
7 8
9 10 11 12
13 14 15
16 17 18
19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31
• asrillanoor@yahoo.com
o Articles
o Asah Trampil
o Asih Kinasih
o Asuh
o Dongeng
o Keluarga, Teknologi Dan Budaya
o Penyesuaian Perkawinan
o Puisi
• HALAMAN
o Filosofi Pendidikan Keluarga
o REFERENSI
Daftar TK
Sistem Pendidikan Kita Melawan Hukum Alam
• Bicara..Bicara
kliper on kutukutubuku
@ahmad on Internet Masuk Sekolah : Posit…
RRj on Pelanduk Dan Kelinci
asrillanoor on REFERENSI
adiBali on REFERENSI
asrillanoor on REFERENSI
tsalis on REFERENSI
tsalis on Bapak mendulang….
asrillanoor on Internet Masuk Sekolah : Posit…
rET on Internet Masuk Sekolah : Posit…
asrillanoor on Internet Masuk Sekolah : Posit…
Herry on Internet Masuk Sekolah : Posit…
ari on Internet Masuk Sekolah : Posit…
asrillanoor on Internet Masuk Sekolah : Posit…
singgasanaku on Internet Masuk Sekolah : Posit…
• My Neighbour
o booksquare
o FAMILY
o GLORIAMADEA
o JAPRAKHAES
o Just Download Free Ebook!
o Rumah Bangsa
o zairazaituni
• Special Link
o Alumni Psikologi Unisba
o Astrology
o Belajar Menulis
o E-KLIPING, E-BOOK
o Education.Com
o Enchanted Learning
o Faira Kidz
o Global Dashboard
o Good Reads
o HEM Homeschooling
o K O M U N I T A S R A M E S
o Komunitas Berkemas
o Okezone
o Pembelajar
o Pendidikan.Net
o Penulis Indonesia
o RUMAH INSPIRASI
o SIGUG
o ZAIRAHAES
• StatISTICS
o 1,901 hits
• Cari..Cari
adat alam album anak Asah Trampil bapak belajar bermain bersama cinta Dongeng education family foto game guru health hidup hp ibu internet jalanan keluarga kesehatan kontemplasi kutukutubuku life love main makan pendidikan pengasuhan perempuan rumah santai sawah sekolah semangat senang tekad teknologi trouble two tuhan tv
Blog at WordPress.com. Theme: Cutline by Chris Pearson.
Sabtu, 14 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar